mau ke mana?

Sabtu, 23 Oktober 2010

Resensi Editorial Ulysses Moore: Pintu Waktu


Argo Manor

Jadi itu nama rumah ini: Argo Manor. Aneh sekali, pikir Nyonya Covenant. “Apa kau yakin kita tidak salah?” Nyonya Covenant bertanya ragu-ragu. Tangannya mengusap-usap dinding Argo Manor seakan-akan ingin meyakinkan dirinya bahwa rumah itu nyata dan semua ini bukanlah sekedar mimpi indah belaka.

Bagian dalam Argo Manor bahkan lebih menakjubkan daripada bagian luarnya. Rumah itu tua, namun memiliki… karakter. Ya, itulah kata yang tepat, pikir Nyonya Covenant. Karakter, seolah-olah rumah itu merupakan makhluk hidup dan bukan sekadar rumah dari batu dan kayu.

Perabotannya merupakan paduan aneh dari berbagai gaya, yang tampaknya berasal dari seluruh penjuru dunia: sebuah vas Mesir, sebuah meja Venesia, permadani-permadani Persia, sampai sebuah lukisan dari Hudson River School. Namun, entah bagaimana semuanya terlihat serasi. Setiap benda terlihat pantas berada di rumah itu.



Jason dan Julia

Jason mendongakkan kepala ke arah lukisan-lukisan yang tergantung di dinding yang mengapit tangga yang menuju ke lantai dua dan ke ruang menara. Tangga itu berakhir di ruang menara, di depan sebuah pintu yang dilengkapi cermin. Jason tak bisa mengingat apa pun, tapi ia tahu tidak mungkin tetap tinggal di situ dan mencoba meyakinkan Julia bahwa ada hantu di lantai dua, Julia takkan mau percaya.

Cahaya matahari menimbulkan bayang-bayang di halaman, menembus pepohonan tinggi, dan membelah awan. Di kejauhan, di batas cakrawala  sebuah garis putih tipis seolah memisahkan langit dengan laut.
“Pernahkah kau bertanya-tanya mengapa langit memutih sebelum menyentuh laut?” tanya Jason kepada saudarinya. “Tidak,” jawab Julia. “Tapi aku bertanya-tanya kapan kau mau belajar menggunakan sisir,” lanjut Julia sambil menjangkau kepala Jason dan mencoba merapikan beberapa helai rambutnya yang berantakan. “Payah,” desis Julia Covenant tanpa maksud jahat.



Rick Banner

Semangat Rick bertambah saat memikirkan hal itu. Selama bertahun-tahun ia memimpikan bisa mengunjungi rumah tersebut dan menjejakkan kakinya sekali saja di dalam dinding-dindingnya yang bertingkat. Ia menghabiskan waktu berjam-jam mengamati rumah itu dengan teropong medan dari jendela rumahnya atau dari pantai saat pasang surut. Rumah itu bagaikan sebuah tempat ajaib. Sebuah magnet yang menarik Rick mendekat. Dan sekarang, akhirnya, tanpa diduga, ia akan berada di sana. Pintu-pintu Argo Manor akan terbuka untuknya.

Si kembar satu tahun lebih muda dari Rick. Mereka tidak tahu apa-apa mengenai Kilmore Cove, namun mereka baru saja pindah ke rumah impian Rick. Dan Rick akan membantu si kembar mengenal Kilmore Cove yang masih baru dan asing bagi mereka. Kedatangan mereka menawarkan kesempatan emas bagi Rick, dan ia sudah siap menyambarnya.

Rick menyeringai saat melihat gerbang hitam Argo Manor di tikungan. Ia mengangkat tubuhnya dari sadel dan memacu sepedanya kencang-kencang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ada apa dengan blog ini??

ada apa ya?? ya biasa aja sama kaya blog pada umumnya.. tapi yang jeas di blog ini semua yang santi suka ada.. tapi ada juga yang ga ada.. abis suka lupa di posting sih..
ya uda seadanya aja..
tapii... yang pasti semua yang aku tulis itu berhubungan ama yang aku suka.. yang aku alamin.. ama yang aku pikirin kali yaa... haha
antahlah -___-" yang penting baca aja..